Gerakan brain gym untuk mengatasi kebiasaan meludah

Sumber: Message from Aan Anwar to peduli autis putra kembara.org

 

Sebenarnya gerakan Brain Gym ini bisa digunakan untuk anak dengan kebutuhan khusus, hanya pada kasus tsb, Casey, adalah seorang anak yang tidak mempunyai refleks menelan, sehingga terus menerus meneteskan air liur. Gurunya melakukan PPL-D atau Pembaruan Pola Lateralitas Dennison. PPL-D adalah serangkaian gerakan sederhana yang sangat bagus, yang mengkoordinasikan kedua sisi tubuh dengan tujuan mengajarkan tentang menyebrangi garis-tengah tubuh. Hal menyeberangi garis-tengah kinestetik-auditori-visual ini meningkatkan aktivitas otak dan pengaturan seluruh tubuh dengan merangsang perkembangan alami seperti pada bayi di masa merangkak.baca selengkapnya… klik disini

Iklan

Gerakan brain gym untuk perkembangan bicara

Sumber buku “I am The Child” alih bahasa: Aan Anwar

1. Gerakan Meregangkan Otot :
yaitu kemampuan berguling dari posisi tiarap sampai ke posisi telentang, dan sebaliknya, kemampuan membedakan daerah tubuh dan memulai gerakan dari satu bagian tubuh.
Fungsinya: membantu bicara, pemahaman dan halangan lain yang terkait dengan bicara, baca selengkapnya… klik disini

Autis dan Asperger ?

Sumber: http://www.puterakembara.org 

Oleh: Leny Marijani

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis.

Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe.

Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 – 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun.baca selengkapnya… klik disini

Deteksi dini dan skrening autism (bag.1)

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA 

Sumber :www.puterakembara.org 

 

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat dalam dekade terakhir ini. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah penyandang autis semakin mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autis masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.baca selengkapnya… klik disini

Penyebab autis (bag.2)

Deteksi dini dan Skrening autis

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA

Sumber: http://www.puterakembara.org


Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.baca selengkapnya… klik disini

Manifestasi klinis autism (bag.3)

Deteksi dini dan Skrening autis

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA

Sumber: http://www.puterakembara.org

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.baca selengkapnya… klik disini

Diagnosis autism (bag.4)

Deteksi dini dan Skrening autis

Oleh: Dr Widodo Judarwanto SpA

Sumber: http://www.puterakembara.org

Menegakkan diagnosis autism memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Untuk menetapkan diagnosis gangguan autism para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV.Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV.baca selengkapnya… klik disini