Simtom setelah lesi neuron motor perifer (bag.9)

 Berdasarkan uraian di atas maka apabila semua sel di cornu anterius yang menginerrvasi otot atau bagian otot rusak, maka otot atau bagian otot tersebut akan tidak mampu berkontraksi. Contoh keadaan ini adalah poliomielitis yang menyerang motoneuron baik med spin maupun truncus cerebri.

 Pa da paralisis akibat destruksi semua atau hampir semua motoneuron yang menginervasi otot, tidak hanya gerak volunter saja yang hilang, tetapi juga kontraksi refleksnya. Lebih jauh lagi, karena terputusnya lengkung refleks miotatik maka otot menjadi flaksid. Konsistensinya turun dan tidak ada resistensi pada gerak pasif. Ciri lain adalah munculnya atrofi otot, yang semakin jelas pada paralisis komplet dan waktu yang lama.baca selengkapnya…   Apabila neuron motor perifer yang menginervasi otot tidak seluruhnya rusak, maka hanya timbul paralisis partial atau paresis. Simptom lain sama dengan pada paralisis tetapi dengan derajad yang lebih ringan. Termasuk didalamnya adalah atrofi, penurunan tonus dan refleks miotatik yang melemah. Gerak yang dilakukan lebih lemah dan biasanya juga lebih lambat.   Simtom di atas, paresis, atrofi, hipotonus, refleks yang hilang atau melemah, dan retardasi tentu saja tidak hanya terjadi pada lesi badan sel saja, tetapi juga pada lesi aksonnya yang ada di radix anterior, plexus atau saraf perifer. Gangguan tersebut pada beberapa keadaan hanya bersifat fungsional, tanpa kerusakan morfologis serabut saraf, misalnya tumor intraspinal yang menekan radix motor, atau saraf perifer yang menyebabkan anoksi saraf karena kompresi sirkulasi.   

Kadang-kadang, pada pasien dengan kerusakan neuron motor perifer timbul fibrilasi, yaitu kontraksi sekelompok kecil otot yang bersifat halus, ritmik atau sering ireguler yang dapat terlihat di bawah kulit atau teraba pada palpasi. Keadaan lain adalah fasikulasi. Keduanya dapat direkam dengan EMG. Fasikulasi diduga disebabkan oleh kerusakan di badan sel (misalnya yang terjadi pada amyotropik lateral sclerosis atau progressive spinal muscular atrophy), sehingga simtom tersebut dapat untuk diferensial diagnosis apakah lesi bersifat radikular atau nulear.m

 Pada otot yang mengalami denervasiada fenomena lain yang dapat dilihat pada EMG,yaitu timbulnya aksi potensial kecil berfrekuensi tinggi. Potensial fibrilasi ini tampaknya berasal dari satu serabut otot yang kehilangan inervasi motoris. Penyebab fibrilasi diduga adalah sensitisasi membran otot setelah denervasi. Tiadanya transmitter, asetilkholin, menyebabkan serabut otot merespon terhadap sejumlah kecil asetilkholin yang beredar di sirkulasi. Prostigmin, yang menghambat pemecahan asetilkholin, cenderung meningkatkan fibrilasi pada otot yang denervasi.

Satu Tanggapan

  1. thx infonya , slm knal dari fisioterapi upn jakarta

    JAWAB:
    Salam kenal juga buat mas fariz, dan buat teman-teman sejawat dari UPN Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: