Bell’s Palsy

Dr Sukardi, Dr P Nara

Subdivisi Nerologi, Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Rumah Sakit Umum Ujung Pandang, Ujung Pandang

SUMMARY

Bell’s Palsy is an acute peripheral facial nerve paralysis of unknown origin with a local lesion within the facial nerve canal. It is more frequently found in adults than in children.

Diagnosis is made based on clinical manifestations with the exclusion of all other causes of peripheral facial nerve disorders.

PENDAHULUAN

Bell’s Palsy (BP) ialah suatu kelumpuhan akut n. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya. Sir Charles Bell (1821) adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan wajah asimetrik, sejak itu semua kelumpuhan n. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell‘s palsy.Pengamatan klinik, pemeriksaan neurologik, laboratorium dan patologi anatomi menunjukkan bahwa BP bukan penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan banyak faktor dan sering merupakan gejala penyakit lain. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada usia dewasa, jarang pada anak di bawah umur 2 tahun.Biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.

Diagnosis BP dapat ditegakkan dengan adanya kelumpuhan n.fasialis perifer diikuti pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan n. fasialis perifer.baca selengkapnya… klik disini

Neuron Motor Perifer (bag.1)

A. Brodal: Neurological Anatomy. In relation to clinical Medicine. 3ed

 New York. Oxford University Press 1981

. dr.Djoko Prakosa

Department of Anatomy, Embryology & Anthropology

 Faculty of Medicine Gadjah Mada University  

Sel motor di cornu anterius medulla spinalis 

Neuron motor perifer atau motoneuron mempunyai badan sel di cornu anterius medulla spinalis dan beberapa nuclei nn. craniales di truncus cerebri. Dengan ditemukannya inervasi eferen ke fusus neuromuscularis (muscle spindle), motoneuron dibagi menjadi . dan .. Alpha motoneuron bersifat multipolar. Dendritnya bercabang-cabang di substansia grisea cornu anterius. Axonnya meninggalkan med. spin. melalui radix anterior. Setelah ikut membentuk saraf perifer, axon berakhir di otot.baca selengkapnya… klik disini

Susunan motoneuron (bag.2)

Motoneuron di lamina IX Rexed dan di nuclei nn. craniales tersusun dalam pola yang khas. Mereka tersusun dalam berbagai kelompok berbentuk pilar. Pilar-pilar tadi terdapat di segmen-segmen tertentu.Pada pokoknya, kelompok medial menginervasi otot truncus dan leher. Kelompok ini terdapat di seluruh panjang med. spin. Sebaliknya, kelompok lateral terutama terdapat di intumescentia cervicalis dan lumbalis, dan mereka menginervasi otot anggota badan. Di kelompok lateral, neuron yang menginervasi otot distal terletak di dorsal neuron yang menginervasi otot proksimal. Dengan demikian motoneuron tersusun secara somatotopis.

Unit Motor (bag.3)

Unit motor adalah motoneuron bersama dengan axon dan seluruh serabut otot yang diinervasinya. Pada saat sebuah motoneuron beraksi, seluruh serabut otot yang diinervasinya berkontraksi. Karena satu motoneuron mungkin menginervasi dari sangat sedikit sampai seribu atau lebih serabut otot, maka ukuran unit motor sangat bervariasi,. Unit motor yang kecil terdapat pada otot-otot yang kecil, misalnya otot ekstraokular dan otot tangan.Demikian juga, unit motor yang kecil terdapat pada otot-otot yang melakukan berbagai gerak yang halus, misalnya otot-otot kecil tangan, otot larynx dan otot ekstraokular. Unit motor yang besar misalnya terdapat pada m. tibialis anterior, m. gastrocnemius. Serabut saraf unit yang kecil umumnya juga berdiameter lebih kecil dibandingkan unit yang besar. Satu serabut saraf dapat menginervasi banyak serabut otot karena axon mempunyai banyak cabang. Serabut-serabut otot yang berasal dari satu unit motor tersebar merata di otot.baca selengkapnya… klik disini

Fungsi unit motor Elektromiografi (bag.4)

Unit motor merupakan unit fungsional terkecil dari alat lokomotor. Berbagai variasi gerak dalam rentang, daya, dan jenis – pada akhirnya ditentukan oleh perbedaan interaksi dan kolaborasi dari unit motor. Informasi tentang fungsi unit elementer ini terutama diperoleh dari EMG. Apabila perubahan potensial yang terjadi pada otot yang berkontraksi secara maksimal direkam, maka akan tampak banyak sekali gelombang negatif dan positif muncul di rekaman, mengakibatkan sulit dan kompleknya interpretasinya. Sebaliknya, apabila otot dikontraksikan lemah saja, maka aksi potensial tunggal akan muncul dengan interval tertentu.

Setiap potensial merefleksikan aktivitas satu unit motor. Oleh karena potensial dari berbagai unit mungkin amplitudonya berbeda, beberapa unit potensial dapat dikenali dengan syarat unit itu hanya sedikit dan kontraksinya lemah.baca selengkapnya… klik disini

Reseptor otot (bag.5)

Otot skelet dilengkapi dengan beberapa jenis reseptor, yang dapat dikelompokkan sbb: fusus neuromuskularis (muscle spindle), organ tendon (Golgi), korpuskulum Vater-Pacini, berbagai jenis akhiran di kapsul sendi, dan akhiran saraf bebas.   Dari berbagai reseptor di atas muscle spindle secara morfologis dan fungsional paling banyak diketahui dan organisasinya paling kompleks. Muscle spindle terdapat di semua otot alat lokomotor, dan pada beberapa otot jang diinervasi saraf kranial, misalnya otot larynx, otot mastikasi, lidah, dan otot ekstraokular. Jumlah muscle spindle sangat bervariasi pada berbagai otot. Otot yang dipakai untuk gerak yang halus mempunyai lebih banyak muscle spindle dibandingkan dengan otot yang digunakan untuk gerak kasar.baca selengkapnya… klik disini

Stretch reflex dan pengendalian otot (bag.6)

Bahkan bila dipisahkan dari bagian otak lainnya, med spin mampu memediasi sejumlah refleks, somatik dan autonomik. Dasar morfologis refleks saraf umumnya disebut arkus refleks, yang dalam bentuknya yang paling sederhana tersusun atas (1) reseptor, yang bereaksi terhadap stimulus; (2) penghantar eferen, yang membawa impuls ke “pusat refleks” (Penghantar aferen adalah serabut sensorik aferen, yang kebanyakan mempunyai badan sel diganglion spinal atau kranial); (3) “Pusat refleks”, tempat pesan aferen dari reseptor berkumpul dengan impuls aferen dari reseptor lainnya, atau dengan aferen dari sumber lain, yang mungkin mengubah pengaruh impuls aferen dari reseptor; (4) penghantar eferen, yaitu serabut saraf yang menuju ke efektor; (5) efektor, yang menghasilkan reaksi, yang mungkin adalah otot, kelenjar atau vasa darah, atau mungkin melibatkan beberapa komponen itu.baca selengkapnya… klik disini